Selasa, 26 November 2013

Sepatu Sang Permaisuri

Dikisahkan, di sebuah kerajaan, sang raja sangat mencintai istrinya yang cantik jelita. Semua keinginan sang permaisuri selalu dipenuhi. Di antara barang-barang mewah kepunyaannya, sang permaisuri sangat menyukai sepatu. Dia mengkoleksi ribuan sepatu. Dimanapun ada perancang sepatu yang terkenal, maka sang permaisuri memiliki koleksinya.

Saking banyak sepatunya, bila permaisuri hendak pergi, minimal beliau butuh waktu lebih dari 1 jam untuk memilih sepasang sepatu yang akan dikenakan. Itu menyebabkan sang permaisuri tertekan, mengalami sakit kepala hingga ke tulang belakang. Dari hari ke hari, penyakitnya semakin parah dan tidak kunjung membaik. Banyak dokter didatangkan ke istana untuk mengobati permaisuri, tetapi  tidak ada satupun yang berhasil.

Akhirnya raja membuat sayembara, “Barang siapa yang bisa menyembuhkan penyakit sang permaisuri akan diberi hadiah 50 keping emas.” Maka seluruh rakyat negeri itu pun berusaha mengerahkan berbagai macam cara untuk menyembuhkan ratu mereka, tetapi tidak juga berhasil.

Suatu hari, datang seorang pengemis ke istana. Walaupun berusaha diusir, tetapi si pengemis berteriak-teriak gaduh, memohon diizinkan bertemu permaisuri. Kebetulan sang permaisuri mendengar dan membolehkan si pengemis bertemu dengannya.

“Permaisuri yang cantik jelita, apa gerangan sakit yang diderita..?”

Tanpa basa-basi, permaisuri pun menceritakan sakit dan penderitaannya.

“Oooh hamba mengerti sekarang. Sekarang, tolong perhatikan sekujur tubuh hambamu ini. Lihat, kedua kaki hamba ini, cacat dari lutut k ebawah karena dimangsa binatang buas saat mencari kayu di hutan. Memang kaki hamba tidak utuh lagi, tetapi hamba masih hidup! Dan itu anugerah terbesar buat hamba. Dan saat ini, hamba kembali bersyukur. Tidak harus sakit seperti putri, karena hamba tidak butuh sepatu yang harus dipakai."

Setelah mendengar perkataan si pengemis, sang permaisuri mendadak berseru gembira, “Aha, terima kasih, Paman! Dibandingkan paman yang tidak memiliki kaki, saya harusnya bersyukur masih memiliki sepasang kaki yang utuh. Saya akan berikan sepatu-sepatu itu kepada orang lain dan saya sisakan beberapa saja. Dengan demikian, saya tidak perlu kebingungan karena harus memilih sepatu. Mudah-mudahan sakit saya pun akan pergi bersama sepatu-sepatu itu. Terima kasih sekali lagi, Paman”.


Sering kali, manusia lupa bersyukur dan sibuk mengeluh (misalnya tidak memiliki sepatu yang bagus) sampai akhirnya tersadarkan saat dia bertemu dengan orang yang hanya memiliki sepasang sepatu butut atau bahkan tidak memiliki kaki sama sekali.

Mempunyai keinginan atau cita-cita besar boleh-boleh saja, asal bukan dilandasi dengan perasaan serakah dan benci. Bila mengejar cita-cita dengan landasan berpikiran yang salah, maka pasti akan berakhir dengan ketidakbahagiaan. Lalu untuk apa punya kelebihan atau sukses tapi tidak bahagia? Jadi tentu... mampu bersyukur juga merupakan suatu kebahagiaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar